Dunia Islam harus atasi perubahan iklim
Konferensi Muslim pertama untuk perubahan iklim meminta dukungan politik negara-negara Islam mengatasi pemanasan global.
Konferensi ditutup Sabtu malam di Bogor, Jawa Barat, dan diakhiri dengan seruan bersama agar negara-negara Islam memiliki pandangan sama terhadap ancaman perubahan iklim serta meminta dukungan politik pemerintahan negara-negara Islam untuk mengatasinya.Salah seorang pembicara dalam konferensi ini, Dr Munif Zoubi, mengatakan pada titik tertentu belum seluruh lapisan dunia Islam sadar ada masalah dengan perubahan iklim.
"Langkah pertama mengatasi ini adalah bagi umat Islam di seluruh dunia untuk mengakui, kita punya masalah," kata Zoubi yang juga merupakan utusan dari Akademi Sains Dunia Islam, Yordania.
Zoubi yang juga merupakan salah satu pimpinan dari badan perubahan iklim dibawah sayap Organisasi Konferensi Islam (OKI), mengatakan kesamaan pandangan terhadap masalah pemanasan global akan mendorong penguasa di negara-negara Islam untuk mengambil tindakan.
"Ini masalah yang sangat penting. Di sebagian negara, ada ilmuwan ada teknologi dan ada kesadaran. Tetapi tidak ada dukungan politik penguasa sehingga tidak ada tindakan."
Sekitar 200 peserta termasuk dari negara non-OKI hadir dalam konferensi di Bogor.
Belum ada aksi
Masih banyak wacana dan diskursus. Padahal yang banyak kita tunggu adalah aksinya
Dr Henry Bastaman
Konferensi yang berlangsung sejak Jumat ini menghadirkan sejumlah pembicara ilmuwan Muslim dan organisasi terkemuka.
Namun muncul kritik, sebagian besar materi masih sekadar berbentuk pengulangan pernyataan tentang bahaya pemanasan global, tanpa kajian langkah kongkrit mengatasinya.
"Masih banyak wacana yang berkembang. Padahal yang banyak kita tunggu adalah aksinya," kata Dr Henry Bastaman, Deputi Menteri Lingkungan Hidup untuk Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Henry sendiri membawakan tema tentang Eco-Pesantren, sebuah upaya yang diprakarsai Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia sejak 2006, tentang bagaimana menjadikan pesantren sebagai simpul penyadaran hidup berwawasan lingkungan di tengah masyarakat.
"Pesantren adalah gambaran riil simpul kekuatan umat Islam di Indonesia. Kami melakukan pendekatan pada mereka agar mau menjadi salah satu penjuru kegiatan ramah lingkungan," kata Bastaman.
Saat ini menurut Bastaman sudah ada 900 pesantren yang terlibat, 120 diantaranya menjadi simpul bagi pesantren-pesantren lain di sekitarnya.
Kementrian LH mengajarkan tata cara pengolahan sampah dan produksi pupuk, pembibitan dan pembuatan bank tanaman, serta konservasi lingkungan pesantren.
"Ada pesantren yang kini punya listrik dari proyek mikro hidro, dan bahkan sedang ada kajian untuk membuat daur ulang air dari limbah air wudlu," tambah Bastaman.
Program semacam ini rupanya menarik bagi banyak peserta.
Amina Rasul dari Konsil Filipina untuk Islam dan Demokrasi menanyakan bagaimana hal semacam ini bisa diterapkan di wilayah Mindanao yang mayoritas warganya Muslim di Filipina.
"Di Mindanao ada sekitar 100 sekolah Islam. Tapi disana tidak ada dukungan pemerintah seperti di Indoensia, apakah ada cara supaya ini ini bisa kami terapkan juga?" tanya Amina.
Jangka panjang
Ini menunjukkan bahwa konferensi ini berhasil menggelindingkan isu kan? Buktinya ada kelanjutan dari konferensi ini dan itu jalan terus
Ismid Hadad
Namun meski berakhir tanpa rekomendasi aksi yang cukup jelas, konferensi ini mendapat banyak penghargaan.
Jun Ichihara yang datang dari Tokyo mengatakan berbagai diskusi yang diikutinya berjalan konstruktif.
"Kalau Anda lihat dalam berbagai konferensi internasional tentang perubahan iklim yang pernah dilakukan baik oleh PBB maupun berbagai organisasi lain, isinya kebanyakan perdebatan negara kaya-miskin yang saling menuntut saja," kata Ichihara.
Ketua pengarah Konferensi Ismid Hadad dari lembaga lingkungan Kehati di Indonesia, mengatakan konferensi ini baru merupakan tahap awal dari langkah besar mencari solusi perubahan iklim.
Menurut Ismid konferensi ini adalah upaya untuk menggulirkan isu perubahan iklim.
"Karena itu kita tidak mau bikin rekomendasi muluk-muluk. Apapun resolusinya, jangka waktu untuk memecahkan problem perubahan iklim selalu panjang, 20-25 tahun," kata Ismid.
Rencananya OKI juga akan menggelar konferensi serupa tahun depan, untuk negara-negara anggotanya.
"Ini menunjukkan bahwa konferensi ini berhasil menggelindingkan isu kan? Buktinya ada kelanjutan dari konferensi ini dan itu jalan terus," tambah Ismid.
Anggota OKI kini mencapai 57 negara berpenduduk mayoritas muslim, yang mewakili 1,7 miliar jiwa warga dunia terkonsentrasi di tiga wilayah yakni Asia, Arab dan Afrika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar